Yang diatas itu judul FanFiction. Punya orang, bukan punya gua. Gua gaada ide buat bikin FF se-awesome ini HAHA.
Dia minta ff-nya ditaro sini biar bisa dibaca orang. Bisa dibilang numpang tenar lah. Lah, mending kalo blog gua ada yang baca. Dari dulu isinya sampah semua, mana ada yang mau ngelirik. Bhuhu.
Yaudah, gausah panjang-panjang lagi lah. Cekdizot.
-----------------------------------------------
PX-4
Aku selalu berfikir bahwa semakin lama,
dunia ini semakin sempit. Atau manusia berkembang biak terlalu cepat dan
semakin pesat kah? Semakin sering aku berfikir mengenai hal ini, aku menjadi
semakin ingin untuk meninggalkan dunia yang sangat penuh dengan omong kosong
ini.
Ingin
aku kembali ke masa lalu atau jika bisa aku juga ingin pergi ke masa depan.
Terdengar seperti sebuah omong kosong, bukan? Tapi semua itu bukanlah sebuah omong
kosong lagi bagiku, hanya satu komponen lagi yang kurang. Hanya satu! Jika aku
bisa mendapatkannya di negara ini, masa lalu ataupun masa depan bukanlah sebuah
impian semata lagi bagiku.
Perkenalkan namaku adalah Shanks Le Roux,
sekarang aku tinggal di sebuah desa kecil di wilayah East Blue. Dan nama desa
itu adalah desa Fuusha, desa ini memiliki orang-orang yang sangat ramah,
penduduk di sini juga tidak pernah berperang. Tapi sayang sekali aku tidak di
besarkan di sini, aku di besarkan oleh kedua orang tuaku di Mt. Colbo.
Saat ini aku sedang membuat sebuah mesin
waktu yang akan aku gunakan untuk
menjelajahi ruang waktu. Mesin waktuku ini adalah uji coba ke empat. Aku sudah
membuat mesin ini hampir sepanjang sisa hidupku. Aku membuat mesin waktu ini untuk
mewujudkan impian dari almarhum ayahku.
Dia adalah seorang penemu yang sangat
hebat. Hanya saja tidak ada satupun orang yang menyadarinya dan selalu
menganggapnya sampah. Bahkan saat ayahku meninggal, mereka mengadakan pesta
di sebuah bar untuk menunjukkan
rasa bencinya terhadap ayahku.
Ayahku dulu sering bercerita kepadaku mengenai
perkembangan dari mesin waktu yang dia buat. Sudah hampir 4 kali dia mencoba
untuk membuatnya, namun tak ada perkembangan berarti yang terjadi. Dan sekarang
aku sedang melanjutkan apa yang sudah dia kerjakan selama beberapa tahun masa hidupnya.
“Tolong satu karung gandum” pintaku pada
seorang pramuniaga. “Baik, tunggu sebentar ya” jawabnya dengan senyum.
Perkenalkan, Pramuniaga ini namanya
adalah Nami, dia adalah satu-satunya orang yang menangis saat ayahku meninggal.
Dia juga satu-satunya teman wanita yang aku miliki. Dia juga memiliki nasib
yang hampir sama denganku, dari tempat tinggal asalnya, dia selalu di kucilkan
dan di Bully bahkan pernah dia menjadi budak dari sekawanan perompak, bahkan pada
saat dia berumur empat tahun, ibunya di bunuh oleh para perompak yang berkuasa
didesanya. Karena orang tua Nami menentang apa yang dilakukan oleh para
perompak tersebut.
“Ini gandumnya” ucap Nami sambil menarik
sebuah troli. “Terima kasih” jawabku sambil tersenyum dengannya. “Mau ditaruh dimana?” tanya Nami sambil
mengemasi karung gandum yang barusanku pesan. “Tidak usah, biar aku saja yang
membawanya” “Baiklah”.
“Nami?” panggilku. “Iya?” “Apa kau sudah
makan malam?” tanyaku dengan sedikit malu. “Belum, ada apa? Apa kau ingin mentraktirku?”
godanya. “Baiklah, aku rasa kali ini tidak masalah” “Baiklah, Kalau begitu aku
akan meminta izin kepada bosku dulu ya?” Ucap Nami dengan senyum manisnya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya
Nami keluar dengan menggunakan pakaian yang dia kenakan sebelumnya. “Ayo!” ajak Nami sembari melangkah
keluar dari toko tempat kerjanya. Dan Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kami
pun berjalan pulang, selama perjalanan pulang Nami banyak bertanya mengenai mesin
waktu yang sedang ku buat.
“Bagaimana dengan PX-4?” tanya Nami
tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunanku. “Hah?!” responku, “Oh PX-4 dia hampir selesai, dia
hanya kurang 1 komponen lagi, benda yang sangat penting, namun juga sangat
sulit di temukan karena benda itu termasuk benda yang langka” “Benarkah?!”
tanyanya dengan nada yang meragukan.
“Lalu, apa nama benda itu?” tanya Nami. “Benda
itu terdapat di sebuah pulau di bagian selatan, dan menurut arsip yang kubaca, benda
itu terdapat di negeri tetangga, yaitu Water Seven” Jelasku panjang lebar(?!). “Aku
tidak bertanya mengenai hal itu Shanks!” ucap Nami dengan sedikit kesal. “Hah?”
responku.
“Aku bertanya apa nama dari benda itu, bukan dimana letak benda itu” Jelas Nami.
Aku terkejut mendengar penjelasannya
yang langsung mengenai perasaan ku. “Kau terlalu terang-terangan Nami” keluhku
dengan sedikit terisak. “Sudahlah kau jawab saja!” perintah Nami seraya memukul
pundakku. “Baiklah Nami, karena kau sudah bertanya, maka aku akan menjawabnya”
jawabku dengan sedikit menyedihkan, sedangkan Nami hanya menghela nafas karena
tingkahku.
“Nama benda itu adalah Uranus” jawabku dengan
nada yang terdengar menyebalkan. “Uranus?” ucap Nami seolah tidak percaya
dengan yang aku katakan, “Ada apa dengan
nada bicaramu?” tanyaku sedikit sinis. “Tidak, hanya saja terkadang aku tidak
mempercayai apa yang kau katakan.” Aku tercengang mendengar ucapannya dan
akupun tertawa sinis menanggapinya. “Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau
percaya dengan apa yang aku katakan?” ejekku. Nami tidak menjawab pertanyaanku.
Dan pada akhirnya Aku dan Namipun sampai
di bengkel tempat kerjaku. Bengkel tempat ku bekerja itu sangatlah terpencil
dan jauh dari pemukiman. Ayahku membuat bengkel tempat kerja itu jauh dari
pemukiman karena menurutnya membuat sebuah mahakarya besar di tempat yang ramai
pasti akan ada orang yang ingin mencurinya, menirunya, merusaknya dan lain-lain
yang ada di pikirannya.
“Mesin waktu ini terlihat seperti sudah
bisa digunakan” ucap Nami “Bukankah aku sudah bilang tadi, mesin itu hanya
kurang 1 komponen lagi.” Responku. Nami langsung menatapku dengan wajah lugunya.
“Mesin itu hanya kurang 1 komponen lagi, jadi jelas benda itu sudah tampak bisa
digunakan” jelasku dengan singkat, padat dan jelas.
“Oh, begitu.” Jawabnya singkat.
Mendengar jawabannya itu, sepertinya tak ada lagi yang perlu aku jelaskan, Jadi
aku melanjutkan apa yang tadi sedang aku kerjakan. Tiba-tiba, “Shanks?” panggil
Nami dengan nada bicara yang terdengar putusasa.
“Ada apa?” sahutku “Jika, kau benar-benar
menemukan komponen yang terakhir itu, apa kau benar-benar akan pergi?” aku menangkap
nada bicara yang lain dari Nami, seolah dia merasa kehilangan. “Ada apa?”
tanyaku, “Kenapa kau berbicara seperti itu?” sambungku sambil melangkah
menghampirinya.
“Tidak, hanya saja jika kau pergi, aku pasti
akan kesepian.” Jelas Nami. “Jadi jika kau benar-benar pergi, jangan terlalu
lama meninggalkanku, ya?” sambungnya. Aku
pernah mendengar nada bicara itu, nada itu seperti keputusasaan, batinku. Aku menghampirinya dan langsung mengacak-acak
rambutnya. “Apa yang kau bicarakan, Nami? Apa kau pikir aku akan meninggalkanmu di dunia yang penuh dengan bualan
ini?!” aku tanpa sengaja membentaknya,
Tatapan mata
Nami langsung berubah. “Saat mesinku sudah selesai, berjanjilah kau akan ikut denganku
mengelilingi masa depan dan masa
lalu!” ucapku pada Nami. Tiba-tiba saja Nami menundukkan
kepalanya. “Hey! Nami, jangan menangis. Kau harusnya senang karena kau satu-satunya
orang yang kuajak pergi!” perintahku dengan sedikit kesal karena aku tidak
terlalu suka melihat wanita menangis, namun aku benar-benar tidak tahu apa yang
harus aku lakukan
“Apa?!” pekik seseorang, suaranya sangat
jelas di telingaku. “Jika dia satu-satunya yang kau ajak, apa kau tidak berfikir untuk
mengajakku? Kau tega!” aku tidak terkejut dengan siapa dia yang tiba-tiba
datang, dan selalu menjadi pihak ke 3 diantara aku dan Nami. “Kau lagi, apakah
kau tidak bosan selau mengganguku saat sedang bersama dengan Nami?!” bentakku,
Ndus,ndus
“Hmmm.
baunya nikmat.” Ucapnya.
Dia tidak
menghiraukanku. Dia berpaling dariku saat aku berbicara?! “Hey
Shanks! Aku ingin makan!” pintanya tanpa ada rasa malu ataupun sungkan. Mungkin
ini karena kami sudah saling mengenal cukup lama. “Apa-apaan kau ini?! Kau tidak mendengarkanku
berbicara,
tapi
kau ingin makan disini?!” protesku. Aku tidak mendengar ada yang menyahut, aku
hanya mendengar tawa Nami yang menghapus air matanya.
Tak lama, aku mendengar ada suara-suara
yang aneh dari tempat rak piring,
klontang klontang. Suara itu, benakku, prok.
“Selamat makan!” ucapnya, aku langsung menjadi jengkel mendengarnya dan
melihatnya bertingkah seperti itu. “HEYY! DENGARKANLAH ORANG YANG SEDANG
BERBICARA!” bentakku dengan sangat menggebu-gebu.
Hhhh,
desahku. “Percuma saja aku membentaknya ataupun memarahinya sampai urat tegang
yang ada di leherku putus, karena kau tidak akan mendengarkan apapun yang aku
katakan, kan?” sindirku. Tapi, “Hey, Nami!
Makanan ini enak sekali, apa kau tidak ingin mencobanya?” tanyanya pada Nami
tanpa memperdulikan apa yang barusan aku bicarakan,
“Baiklah, aku mau.” Jawab Nami dengan
spontannya. “Lagipula aku ada di sini untuk makan malam” sambung Nami. “Hey!
Kalian ini benar-benar tidak memperdulikan aku! Dengarkan aku! Aku sedang
berbicara, tahu!” bentakku dengan sangat kesal pada sikap mereka berdua yang
benar-benar menjengkelkan,
“Kau kenapa, Shanks? Kau sedang
mengalami masalah pencernaankah? Kenapa sejak tadi kau marah-marah seperti itu
terus?” Aku tercengang mendengarnya, dia benar-benar tidak mendengarkan aku. “Kemari dan makanlah, sebelum makanan ini
menjadi dingin dan kau tidak bisa memakannya lagi.” Mendengar perkataannya, aku langsung menghampiri Nami dan temanku yang sangat pintar ini.
“Minggir! Aku akan makan!”. Lalu kami bertiga pun memakan apa yang baru saja ku
masak tadi.
Oh iya, sejak
tadi aku belum memperkenalkan kalian kepada temanku ini. Perkenalkan,
namanya adalah Kuro. Dia adalah orang yang sangat tau bagaimana mengambil hati orang
lain, walaupun dia sangat jarang mendengarkan apa yang sedang dibicarakan orang
lain. Tapi dia adalah satu-satunya teman pria yang aku miliki. Setahuku dia bekerja pada seorang saudagar kaya. Tapi, Kuro
sangat tertutup kepada orang lain mengenai kehidupan pribadinya. Termasuk
kepadaku. Itulah sebabnya aku tidak tahu banyak mengenai dirinya.
“Shanks, mesin
waktumu apakah sudah bisa digunakan?” tanya Kuro sambil mengambil sebotol Sake
yang berada di ruang penyimpanan bawah tanah. “Hanya kurang 1 komponen lagi,
dan aku hanya perlu pergi ke Water Seven untuk bisa mendapatkannya”
“Lalu, kapan kau
akan pergi ke sana Shanks?” Tanya Kuro. “Jika bisa aku ingin pergi
besok” jawabku sambil melahap kroketku. “Begitukah?” tanya Kuro seolah meragukan keteranganku.
“Lalu jika kau pergi, siapa yang akan menjaga PX-4?” tanya Nami yang membuat
pembicaraanku dengan Kuro terhenti.
Tapi yang di
ucapkan oleh Nami benar juga, Jika aku pergi
siapa yang akan menjaga PX-4?. Hal itu benar-benar tidak pernah aku
pikirkan, lalu aku harus bagaimana? “Hey Shanks, ada apa?” tanya Nami yang
memecah lamunanku. “Tidak, hanya saja yang kau katakan barusan tidak pernah
terpikirkan olehku” jawabku dengan penuh kekecewaan mengenai sesuatu yang sangat
serius, namun tidak aku pikirkan sampai jauh.
“Kenapa kau
bingung?” tanya Kuro dengan santainya. “Apa maksudmu?” “Bukankah aku masih ada di sini?” ucap kuro yang membuatku
menjadi benar-benar bingung dengan ucapannya. “Apa yang kau bicarakan?” tanyaku
yang menjadi semakin bingung dengan pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh Kuro.
“PX-4, serahkan
saja dia padaku.” Aku tercengang
mendengar perkataan Kuro, “Apa?!” “Pergilah ke Water Seven bersama Nami, kemampuan Nami dalam memecahkan
masalah akan lebih berguna, di bandingkan dengan kemampuan yang aku miliki” Aku
hampir tidak bisa mempercayai telingaku sendiri.
“Apakah kau
yakin dengan apa yang baru saja kau katakan, Kuro?” pancingku, karena aku takut
jika dia hanya bergurau saja dengaku. “Ayolah, jangan meragukanku, Shanks. Kita
ini teman, bukan?” Aku tak
percaya mendengar penjelasan Kuro. Jadi spontan aku langsung memeluknya.
“Oohh, Kuro! Kau
benar-benar sangat membantu! Terima kasih!” “Hey hey hey, tidak perlu peluk-peluk
segala, aku ini masih normal. Lagi pula aku sudah punya kekasih” protes Kuro
padaku. “Aku tidak peduli! Ohh,
penyelamat jiwaku”
“Baiklah Shanks,
permasalahanmu mengenai siapa yang akan menjaga PX sudah teratasi. Lalu,
permasalahan berikutnya adalah, kapan kau akan pergi ke Water Seven?” tanya
Kuro dengan bijaknya. “Mungkin lusa aku akan pergi ke sana,” jelasku “Bagaimana
Nami?” aku bertanya mengenai usulku kepada Nami.
“Hmm, aku tidak
tahu Shanks, jika lusa, itu tampak sangat tiba-tiba, aku belum tau, apakah aku
memiliki uang untuk pergi dan menginap atau tidak” “Tenang saja Nami, aku yang
mengajakmu, jadi aku yang akan menanggung semuanya. Lagi pula aku yang
memerlukan bantuanmu, jadi sudah pasti aku yang akan menanggungnya” ucapku
sambil menepuk dadaku sendiri. “Hmm, baiklah! Selama kau yang bayar sepertinya
tidak masalah jika aku juga pergi ke Water Seven”
Mendengar
jawaban Nami aku melompat kegirangan. Tak ku sangka semua masalahku selesai
hanya dalam waktu hitungan menit. Selesai makan dan berunding mengenai rencanaku,
Kuro dan Nami pun pulang. Dan setelah
malam ini. 2 hari kemudian.
“Hoi, Kuro! Kami pergi dulu! Kutitipkan PX padamu ya!” pintaku pada Kuro dari geladak
kapal. “Kami tak akan pergi terlalu lama” Nami tampak sangat semangat. Yah,
mungkin ini pertama kalinya dia berpergian jauh. “Tenang saja Shanks! Tidak
akan ada yang menyentuh PX selama aku yang menjaganya” Kuro berusaha
meyakinkanku dengan kata-katanya.
Aku tersenyum
mendengar ucapannya. “Baiklah Kuro, kupercayakan PX padamu!” sahutku. “Kami
pergi dulu Kuro!” sambungku. “Baiklah! Hati- hati di jalan!” do’a Kuro untukku
dan Nami. “Selamat jalan!” sambungnya lagi. Lalu kapalnya pun berlayar.
“Selamat tinggal
Kuro, do’a kan kami cepat mendapatkan benda itu ya!” pintaku pada Kuro “Tentu
saja, Shanks! Selamat jalan!” sambungnya lagi. Kapalnya pun berlayar
meninggalkan Mt. Colbo dan langsung menuju ke Water Seven . Aku dan Nami
pun langsung mencari tempat duduk yang
strategis. Tapi, (Di pelabuhan Mt. Colbo)
“Tenang saja Shanks-san,
aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh PX. Tidak akan!” senyum jahat Kuro
mulai terlihat, dia mengambil Denden Mushi miliknya dari kantung celananya
lalu. “Bagaimana? Apakah kau sudah menyiapkan semuanya dengan baik?” tanya Kuro
pada seseorang di dalam teleponnya.
“Tenang saja Kuro,
kami di sini sudah mengurusnya, kau di sana hanya tinggal menunggu dengan
sedikit bersantai” “Baiklah akan ku percayakan hal itu kepadamu, Jango” “Kau
bisa mengandalkanku Okashira” pembicaraan antara Kuro dan Jango pun diakhiri.
Setelah sampai
aku memanggil Nami sambil meletakkan tas yang kubawa di sebelahku. “Nami?” “Ada
apa?” tanya Nami. “Apa kau berfikir sama dengan yang
aku pikirkan?” Nami langsung menatap bingung ke arahku. “Aku tidak tahu, memangnya kau
sedang berfikir mengenai apa?” “Water
Seven benar-benar berbeda dengan apa yang aku fikirkan selama ini” “Yaa
terserahlah, yang terpenting untuk sekarang adalah kita mencari penginapan
terlebih dulu”
Aku terkejut mendengar ucapan Nami. “Ooyyy Nami! Apa kau tidak ingin
mendengarkan pendapatku mengenai Water Seven?” tanyaku sambil berlari
mengejarnya yang mulai melangkah meninggalkanku. “Aku tidak tertarik Shanks,”
jawab Nami singkat sembari menikmati jalan-jalan kecil di Water Seven.
Aku berubah pikiran tentang Water Seven. Sebelum aku menginjakkan kakiku
untuk yang pertama kalinya di Water Seven, aku selalu berfikir bahwa Water
Seven adalah kota air yang membosankan.
Aku berkata seperti itu bukan tanpa sebab, di Water Seven itu sangat banyak
air. Bahkan jalan-jalan utama di Water Seven adalah air. Dan setelah
bertahun-tahun aku yakin mereka tak akan pernah kehabisan air. Hahahaha. Akan
tetapi selama perjalanan menuju ke sini, Nami banyak bercerita mengenai Water Seven.
Di Water Seven ada banyak model alat transportasi air, mulai dari perahu
dayung, perahu bermotor bahkan kereta api lautpun ada di sini. Disini juga
terdapat kapal-kapal laut yang hebat beserta para pembuatnya yang kemampuannya tidak
perlu lagi untuk di pertanyakan. Di sini juga termasuk wilayah yang aman, karena tempat ini dikuasai oleh CP 9 yang
merupakan seorang agen pemerintah.
“Akan tetapi, walau CP 9 adalah agen pemerintah, dia bukanlah manusia, dia adalah Cyborg.” Jelas Nami sambil meminum jus
jeruknya. “Cyborg?” tanyaku bingung. Aku tak menyangka pemerintah memiliki
sebuah Cyborg. “Ya! Cyborg itu, juga bisa berbicara dalam bahasa manusia. Jadi
ada kemungkinan jika dia mengetahui sedikit informasi mengenai Uranus”
“Begitukah menurutmu?” Tanyaku
ragu-ragu. “Tentu saja! Akan tetapi, dia adalah sebuah Cyborg milik pemerintah,
apakah dia akan membeberkan begitu saja informasi mengenai Uranus kepada turis
Asing seperti kita?” selidik Nami kepadaku. “Kurasa hal itu sangat mustahil!” sambungnya
dengan penuh keyakinan.
“Begitukah menurutmu?” tanyaku yang sedikit ragu mengenai keterangan yang
diberikan oleh Nami. “Hem” angguk Nami. “Kau boleh menganggapnya seperti itu”
jawab Nami dengan yakinnya. “Ah! Ngomong-ngomong, kau ingin sebuah penginapan
yang seperti apa Nami?” “Hmm, Mungkin sebuah Motel cukup” Setelah lama
berjalan, kamipun menemukan sebuah Motel. Dari luar, motel ini tampak sangat
tidak menarik, jadi akupun berfikir,
“Motel ini tidak tampak bagus ya, Nami?” tanyaku. “Apa kau ingin mencari Motel yang lain
saja Nami?” Nami tidak menjawab pertanyaanku, tapi dia langsung masuk ke dalam
motel tersebut. Akupun mengikuti Nami yang berjalan di depanku. Saat pertama
kali menginjakkan kakiku didalam motel ini, aku terkejut luar biasa. Karena siapa yang
akan menyangka? Saat kau berkunjung kesebuah tempat penginapan, kau langsung disambut
oleh sebuah Tengkorak.
“Selamat siang, namaku Brook, dan aku adalah pemilik dari penginapan
ini. Senang bertemu dengan kalian.” Dan sekarang,
tengkorak itu berbicara?! batinku. “Maaf atas pelayanan motel kami yang buruk,
tapi karena sudah bertahun-tahun motel ini tidak menarik minat para pengunjung,
yang sebenarnya memang tidak ada, iyohohohoho” tawanya membuatku merasa sangat
aneh, dan membuatku berfikir mengenai dia itu juga merupakan sebuah Cyborg atau
tengkorak sungguhan?! “Jadi para pelayanpun pergi meninggalkan tempat ini”
sambungnya sambil meneguk secangkir Teh miliknya. “Itukah sebabnya mengapa tempat ini tampak tak terurus?”
tanya Nami tanpa ragu.
“Ya itu benar sekali” jawabnya “Kami ingin memesan kamar” pintaku. Dia
menatapku seakan ingin bertanya, namun entah apa yang ada di pikirannya.
“Baiklah tuan, karena kalian adalah pengunjung setelah sekian lama Motel ini
kosong, jadi aku akan memberikan diskon kepada kalian sebesar 50%” ucapnya. “Wow?!
Benarkah?!” tanyaku girang. “Tentu saja tuan” “Baiklah kalau begitu aku pesan 2
kamar” perintahku. “Baiklah, kau ingin kamar nomor berapa?” “Hmmm, jika bisa
aku ingin kamar yang dekat dengan pintu keluar” Brook sadang membuka-buka
sebuah buku lalu dia mendongakkan kepalanya. “Bagaimana jika kamar nomor 1
& 2?” tanya Brook.
“Sepertinya tidak masalah” jawabku, “Benarkan? Nami?” sambungku. Nami
tidak menyahutiku, sepertinya dia sedang asik melihat-lihat dekorasi di sekitar
hotel, jadi aku anggap jika dia setuju dengan usulku. “Ini kunci kamarnya, tuan” ucap Brook sambil memberikan 2
buah kunci kepadaku. “Terima kasih” ucapku,
“Baiklah Nami, kau kamar yang nomor 2 ya? Aku tidak suka angka genap”
jelasku. Nami tidak menyahutiku, namun dia langsung mengambil kunci kamar yang
aku berikan. “Nami, untuk sekarang kau istirahatlah dulu, karena besok kita
akan berburu komponen terakhir. Persiapkan dirimu ya?” tanyaku dengan senyum. “Baiklah, Shanks”
Lalu, kamipun masuk ke dalam kamar masing-masing dan mulai beristirahat.
Mungkin Nami sudah beristirahat
terlebih dahulu. Tetapi aku masih melihat-lihat peta yang kuambil saat masih berada di
dalam kapal tadi. Bukannya aku mencuri, tetapi aku menemukannya tergeletak di dalam
kabin kapal. Jadi aku mengambilnya. Setelah melihat-lihat peta dari Water Seven, aku langsung
tertidur. Keesokan paginya.
“Shanks, Shanks, bangun! Apa kau tidak mendengarku?” tanya seseorang.
“Tunggu 5 menit, aku masih sangat mengantuk” pintaku “Bangun, Shanks! Ada yang memindahkan kita!” Mendengar ucapan Nami, aku terserentak
terkejut dan langsung terbangun. “Hah?! Dimana kita?!” tanyaku dengan paniknya sambil
melihat sekeliling. “Kita masih berada di Water Seven” jawab Nami singkat. “Aku tahu! Yang kumaksud dimana kita
sekarang?! Dan siapa yang melakukan ini pada kita?!”
SEASON PERTAMA SUDAH TAMAT! SILAHKAN TUNGGU KELANJUTANNYA
SAAT SEASOON KE-DUA SUDAH SELESAI DIBUAT J SEMOGA KALIAN SEMUA MENIKMATI FFNYA JJJJJJ
